hunting photo nih hmm mesjid Azizi, tj. pura, tempat PPL ku
Senin, 10 Agustus 2009
Kamis, 06 Agustus 2009
Rabu, 05 Agustus 2009
Sebuah muhasabah....
SEBUAH MUHASABAH
Kematian, mungkin tidak ada hal yang paling “menakutkan”, selain 1 kata tersebut. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Fatimah, putri dari manusia paling agung Rasulullah Saw, “suatu hari menjelang kematian Rasulullah, pintu rumahku diketuk oleh seseorang sambil mengucapkan salam. Akupun segera menemui R asulullah untuk mengatakan hal tersebut. Rasulullah menyuruh aku agar mempersilahkan tamu tersebut masuk sembari bertanya, “ wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah yang datang? Akupun menjawab, ‘ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, tetapi dia memanggil dengan suara yang menggetarkan sukma bagi siapa saja yang mendengarnya”, beliau pun menjawab “ sesungguhnya yang datang itu adalah sang pemutus kesenangan dunia dan cita-cita, pemisah anak dengan keluarga, dan yang meramaikan kuburan, suruhlah dia masuk”. Sekelumit kisah dari kekasih Allah menjelang detik-detik kembalinya ruh pada Khaliqnya. Sungguh, tidak ada yang bisa mengetahui kepastian akan datangnya maut, walaupun hanya berhitungkan hari bahkan detik sekalipun. Tertawa dan bersendagurau bersama keluarga dan teman-teman, namun tidak ada yang dapat memastikan apakah sesudah itu mereka bisa kembali bersua. Dunia hanyalah fatamorgana dan mengejarnya ibarat meminum air laut, makin diminum makin haus. Alquran telah memberi warning kepada kita makhluk yang amat mudah tertipu oleh bujukan kemegahan dunia,” Sesungguhnya dunia tiada lain hanyalah permainan dan tipu daya belaka, dan kehidupan akhirat adalah sebaik-baik tempat kembali”.
Jujur saja, terkadang butuh sedikit teguran pertanda cinta dari Sang maha Rahman, untuk menyadarkan kita insan hina yang mengaku sering lalai dan lupa dengan tujuan utama hidup kita, beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya. Dikejar-kejar jadwal perkuliahan yang padat, laporan praktikum yang kian menumpuk, bahkan sekedar zikir singkat sehabis sholat, sempat tidak sempat. Sholat hanya prioritas ke ???, nilai mata kuliah jauh lebih penting dan “mulia” daripada Nilai sholat kepada Allah, walaupun jelas-jelas nilai MK, orientasinya dunia semata, tokh, kita tidak akan pernah diinterogasi oleh malaikat apalagi ALLAH, tentang nilai dan IPK.
November 2007, Kepergian seorang sahabat yang selama hampir 2 tahun bersama-sama dalam 1 departemen, semakin menyadarkan daku, bahwa diri ini pun sedang menunggu giliran untuk kembali padaNya. Sebuah SMS yang masuk pada pukul 3 Dinihari, sungguh membuat aku sangat dan amat terkejut, hampir hampir lutut tidak sanggup menopang tubuh yang kian lunglai. Juli 2009, kepergian sahabat dekat saat SMU, justru ketika aku tiba2 ingat dan ingin menelponnya, namun sebuah SMS notification membungkam diri ini dengan keterkejutan yg teramat sangat... Yah... walaupun siapa saja pasti tahu kalau lahir dan mati itu pasti dan maut tidak mengenal usia, namun kematian tetap saja mengejutkan.
Perlu kita pertanyakan apakah kita masih cocok/pantas disebut aktivis jika untuk “ bermesraan” dengan ALLAH di 1/3 malam saja qt masih enggan. Kecapekan karena segudang n segunung aktivitas dakwah, yg syuro’lah yg dauroh ini lah yg seminar itulah yg mentoring sanalah, tanpa kita sadari bahwa bukan kuantitas tapi “kualitas dan kapabilitas” ibadah kita yg lebih diridhoi ALLAH. Tanpa bermaksud mengecilkan, pengalaman mabit bersama Akhwat X, yg aktivitasnya begitu full ( Subhanallah) namun energi potensial yg ada telah habis terkikis pada siang hari, sehingga untuk bangun sholat shubuh saja terasa ter-amat berat. Tahajud yang oleh Tauladan agung qt, Rasulullah dan para shahabat dijadikan sebagai nutrisi dakwah, akhirnya... lewat deh.
Jujur,tulisan ini lebih banyak dan pantas dialamatkan kpd penulis sendiri agar lebih menghargai waktu hidup didunia untuk investasi akhirat. Krn waktu tak akan pernah permisi untuk meninggalkan kita.
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya dan menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tiada guna....”( Qs.23:1-3 ).
4 mujahid/mujahidah at Hamdalah 2’s community
“ karena syukur tak sebatas lisan”
Kematian, mungkin tidak ada hal yang paling “menakutkan”, selain 1 kata tersebut. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Fatimah, putri dari manusia paling agung Rasulullah Saw, “suatu hari menjelang kematian Rasulullah, pintu rumahku diketuk oleh seseorang sambil mengucapkan salam. Akupun segera menemui R asulullah untuk mengatakan hal tersebut. Rasulullah menyuruh aku agar mempersilahkan tamu tersebut masuk sembari bertanya, “ wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah yang datang? Akupun menjawab, ‘ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, tetapi dia memanggil dengan suara yang menggetarkan sukma bagi siapa saja yang mendengarnya”, beliau pun menjawab “ sesungguhnya yang datang itu adalah sang pemutus kesenangan dunia dan cita-cita, pemisah anak dengan keluarga, dan yang meramaikan kuburan, suruhlah dia masuk”. Sekelumit kisah dari kekasih Allah menjelang detik-detik kembalinya ruh pada Khaliqnya. Sungguh, tidak ada yang bisa mengetahui kepastian akan datangnya maut, walaupun hanya berhitungkan hari bahkan detik sekalipun. Tertawa dan bersendagurau bersama keluarga dan teman-teman, namun tidak ada yang dapat memastikan apakah sesudah itu mereka bisa kembali bersua. Dunia hanyalah fatamorgana dan mengejarnya ibarat meminum air laut, makin diminum makin haus. Alquran telah memberi warning kepada kita makhluk yang amat mudah tertipu oleh bujukan kemegahan dunia,” Sesungguhnya dunia tiada lain hanyalah permainan dan tipu daya belaka, dan kehidupan akhirat adalah sebaik-baik tempat kembali”.
Jujur saja, terkadang butuh sedikit teguran pertanda cinta dari Sang maha Rahman, untuk menyadarkan kita insan hina yang mengaku sering lalai dan lupa dengan tujuan utama hidup kita, beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya. Dikejar-kejar jadwal perkuliahan yang padat, laporan praktikum yang kian menumpuk, bahkan sekedar zikir singkat sehabis sholat, sempat tidak sempat. Sholat hanya prioritas ke ???, nilai mata kuliah jauh lebih penting dan “mulia” daripada Nilai sholat kepada Allah, walaupun jelas-jelas nilai MK, orientasinya dunia semata, tokh, kita tidak akan pernah diinterogasi oleh malaikat apalagi ALLAH, tentang nilai dan IPK.
November 2007, Kepergian seorang sahabat yang selama hampir 2 tahun bersama-sama dalam 1 departemen, semakin menyadarkan daku, bahwa diri ini pun sedang menunggu giliran untuk kembali padaNya. Sebuah SMS yang masuk pada pukul 3 Dinihari, sungguh membuat aku sangat dan amat terkejut, hampir hampir lutut tidak sanggup menopang tubuh yang kian lunglai. Juli 2009, kepergian sahabat dekat saat SMU, justru ketika aku tiba2 ingat dan ingin menelponnya, namun sebuah SMS notification membungkam diri ini dengan keterkejutan yg teramat sangat... Yah... walaupun siapa saja pasti tahu kalau lahir dan mati itu pasti dan maut tidak mengenal usia, namun kematian tetap saja mengejutkan.
Perlu kita pertanyakan apakah kita masih cocok/pantas disebut aktivis jika untuk “ bermesraan” dengan ALLAH di 1/3 malam saja qt masih enggan. Kecapekan karena segudang n segunung aktivitas dakwah, yg syuro’lah yg dauroh ini lah yg seminar itulah yg mentoring sanalah, tanpa kita sadari bahwa bukan kuantitas tapi “kualitas dan kapabilitas” ibadah kita yg lebih diridhoi ALLAH. Tanpa bermaksud mengecilkan, pengalaman mabit bersama Akhwat X, yg aktivitasnya begitu full ( Subhanallah) namun energi potensial yg ada telah habis terkikis pada siang hari, sehingga untuk bangun sholat shubuh saja terasa ter-amat berat. Tahajud yang oleh Tauladan agung qt, Rasulullah dan para shahabat dijadikan sebagai nutrisi dakwah, akhirnya... lewat deh.
Jujur,tulisan ini lebih banyak dan pantas dialamatkan kpd penulis sendiri agar lebih menghargai waktu hidup didunia untuk investasi akhirat. Krn waktu tak akan pernah permisi untuk meninggalkan kita.
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya dan menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tiada guna....”( Qs.23:1-3 ).
4 mujahid/mujahidah at Hamdalah 2’s community
“ karena syukur tak sebatas lisan”
kisah lutu ye!
Ustadz kerjanya kok dandan?
Kisah ini terjadi waktu aku masih kelas 3 SLTP. Siang itu adalah waktunya pelajaran Bahasa Indonesia dengan topik Kalimat Majemuk Setara dan Bertingkat. Menjelang UN kami lebih banyak menyelesaikan soal-soal UN tahun sebelumnya. Dengan serius aku membaca soal demi soal hingga sampailah pada soal yang berbunyi “ Pacarku adalah gadis yang senang berdandan dari hari ke hari”, tiba-tiba kawan sebangkuku berbisik, “ Ta, Ibu ini baru nikah ya, ma siapa dan apa kerjanya?, dia bertanya mungkin karena tahu kalau guru bahasa Indonesia yang sedang mengajar kami adalah tetanggaku. “ Ya, tapi kurang tau apa kerja suaminya, kata orang sih Ustaz,” walaupun sedikit gondok karena konsentrasiku terganggu tapi aku jawab juga. Belum selesai aku bicara, tiba-tiba ibu itu menunjuk aku, “ Silahkan kedepan kerjakan kalimat majemuk yang akan ibu bacakan”. Walaupun sebenarnya aku belum terlalu paham materinya dan sedikit terkejut, tapi aku gengsi juga kalau tidak maju karena gelar juara kelas yang aku pegang.
Dengan mantap aku pun maju. Beliau membacakan soalnya “ Pacarku adalah gadis yang senang berdandan dari hari kehari”, padahal soalnya jelas-jelas sama dengan yang aku kerjakan sebelumnya. Tapi entah apa yang ada di memori otakku sehingga ketika asyik menulis subjek, Predikat, Objek, tiba-tiba suara guru tersebut memecahkan keseriusanku, “Hmm, coba kamu baca lagi kalimat yang kamu tulis!, aku terkejut, lalu tanpa rasa bersalah akupun membaca ulang yang aku tulis: “Pacarku adalah ustaz yang senang berdandan dari mesjid ke mesjid.” Astaghfirullah! Aku betul-betul heran kok bisa ini yang aku tulis?, Gerrr! Seisi kelas tertawa bahkan kulihat ada yang memegangi perut menawan tawa. “ Ngapain ustaz dimesjid kalau cuma dandan kerjanya?” beliau nyeletuk dengan ekspresi yang sulit aku terjemahkan. Aku hanya menunduk. Perasaan malu dan kesal pada diri sendiri yang melamun saat menulis. Aku pun hanya bisa berkata pelan, “ Maaf Bu!”. Untunglah pemilihan bagian S, P, O aku benar sehingga aku dibolehkan duduk. Bahkan hingga berakhir jam pelajaran dan kami pulang, “kelalaian” itu masih jadi bahan tertawaan teman-temanku.
Kisah ini terjadi waktu aku masih kelas 3 SLTP. Siang itu adalah waktunya pelajaran Bahasa Indonesia dengan topik Kalimat Majemuk Setara dan Bertingkat. Menjelang UN kami lebih banyak menyelesaikan soal-soal UN tahun sebelumnya. Dengan serius aku membaca soal demi soal hingga sampailah pada soal yang berbunyi “ Pacarku adalah gadis yang senang berdandan dari hari ke hari”, tiba-tiba kawan sebangkuku berbisik, “ Ta, Ibu ini baru nikah ya, ma siapa dan apa kerjanya?, dia bertanya mungkin karena tahu kalau guru bahasa Indonesia yang sedang mengajar kami adalah tetanggaku. “ Ya, tapi kurang tau apa kerja suaminya, kata orang sih Ustaz,” walaupun sedikit gondok karena konsentrasiku terganggu tapi aku jawab juga. Belum selesai aku bicara, tiba-tiba ibu itu menunjuk aku, “ Silahkan kedepan kerjakan kalimat majemuk yang akan ibu bacakan”. Walaupun sebenarnya aku belum terlalu paham materinya dan sedikit terkejut, tapi aku gengsi juga kalau tidak maju karena gelar juara kelas yang aku pegang.
Dengan mantap aku pun maju. Beliau membacakan soalnya “ Pacarku adalah gadis yang senang berdandan dari hari kehari”, padahal soalnya jelas-jelas sama dengan yang aku kerjakan sebelumnya. Tapi entah apa yang ada di memori otakku sehingga ketika asyik menulis subjek, Predikat, Objek, tiba-tiba suara guru tersebut memecahkan keseriusanku, “Hmm, coba kamu baca lagi kalimat yang kamu tulis!, aku terkejut, lalu tanpa rasa bersalah akupun membaca ulang yang aku tulis: “Pacarku adalah ustaz yang senang berdandan dari mesjid ke mesjid.” Astaghfirullah! Aku betul-betul heran kok bisa ini yang aku tulis?, Gerrr! Seisi kelas tertawa bahkan kulihat ada yang memegangi perut menawan tawa. “ Ngapain ustaz dimesjid kalau cuma dandan kerjanya?” beliau nyeletuk dengan ekspresi yang sulit aku terjemahkan. Aku hanya menunduk. Perasaan malu dan kesal pada diri sendiri yang melamun saat menulis. Aku pun hanya bisa berkata pelan, “ Maaf Bu!”. Untunglah pemilihan bagian S, P, O aku benar sehingga aku dibolehkan duduk. Bahkan hingga berakhir jam pelajaran dan kami pulang, “kelalaian” itu masih jadi bahan tertawaan teman-temanku.
kado milad Hamdalah yg pertama...
"APA KABAR HAMDALAH٢ HARI INI?
(Tahun Pertama)
Sebuah pertanyaan yang menyiratkan bermacam makna. Makna Kegelisahan, keheranan atau mungkin juga perhatian akan “nasib” Hamdalah 2 kedepan sebagai forum Alumni Daurah Marhalah 2 yang dicetuskan pada tanggal 6-9 September 2007 lalu. Diusia batuta ( bayi atu taon) tepatnya 1 Tahun 2 bulan 3 Hari belum ada tanda-tanda perkembangan yang menggembirakan. Ghiroh milad yang pertama, sebagaimana kebahagiaan orang tua yang biasanya meletup-letup merayakan genapnya 1 Tahun sang buah hati menghirup nafas kehidupan dunia. Begitu juga yang terjadi pada personil yang ikut membidani kelahiran Hamdalah (termasuk penulis kalee). Maka disusunlah konsep dan rencana untuk mengisi milad yang tentunya diwarnai dengan sejuta ide untuk KAMMI kedepan. Walau agak terkesan Hiperbolik, Kebanyakan wacana, wacana, dan wacana. Seorang sahabat pentolan Alumni sebelumnya, tiba-tiba nyeletuk “ ntar semangatnya Cuma tahun pertama aja, setelah itu, Allahu a’lam!”. Fikir-fikir benar juga, walau modal semangat doank ga cukup untuk mengawal suatu perubahan, tapi kalau modal ini aja ga dimiliki lagi, Hamdalah tahun depan hanya tinggal nama, tanpa Substansi, Esensi apalagi aksi!. Ternyata benar-red (oh…n0!)
Dan akhirnya teka-teki itupun terjawab sudah…harapan akan keluangan waktu—kalau boleh dibilang—dari Hamdalah’s community ternyata sangat mahal. Seribu mungkin..mungkin dan mungkin, sebagai bentuk Toleransi dan Husnuzhon yang tinggi kepada saudara2ku di Hamdalah. Af1.Minggu kedua Ramadhan, Hari H (Hamdalah) ternyata tidak secemerlang yang direncanakan. Subhanallah, betul-betul kwantitas personil dan acara nan sangat bersahaja. Keikhlasan kembali diuji. Alhamdulillah, untung materinya dikemas apik dan menarik. Yaaa khas orang Indonesialah untuk menghibur diri sendiri. Sikon-nya ga jauh beda dari syuro Sehingga an sempat berfikir semoga milad dan syuro’ Hamdalah tidak hanya dijadikan sekedar ajang “ melepas kerinduan” antar personil Hamdalah , atau sekedar kebanggaan mengenakan jaket “Persatuan” Hamdalah.
Guncangan kecil pun mulai menggoyang. Sampai ada yang….ah an fikir ini gak usah dibahas, khawatir akan benar-benar jadi kenyataan. Hamdalah akan segera berakhir, sesuai dengan namanya, Alhamdulillah,…. Tahmid penutup kegiatan insan.
Tulisan ini, lebih cocok dan pantas ditujukan kepada sang penulis semoga selalu dan senantiasa insyaf akan kealpaan diri. Sok Idealis? Ga papa juga sih asal Realistis!
7 Dzulhijjah 1429 H, with Pasrahkan Diri- Snada
(Tahun Pertama)
Sebuah pertanyaan yang menyiratkan bermacam makna. Makna Kegelisahan, keheranan atau mungkin juga perhatian akan “nasib” Hamdalah 2 kedepan sebagai forum Alumni Daurah Marhalah 2 yang dicetuskan pada tanggal 6-9 September 2007 lalu. Diusia batuta ( bayi atu taon) tepatnya 1 Tahun 2 bulan 3 Hari belum ada tanda-tanda perkembangan yang menggembirakan. Ghiroh milad yang pertama, sebagaimana kebahagiaan orang tua yang biasanya meletup-letup merayakan genapnya 1 Tahun sang buah hati menghirup nafas kehidupan dunia. Begitu juga yang terjadi pada personil yang ikut membidani kelahiran Hamdalah (termasuk penulis kalee). Maka disusunlah konsep dan rencana untuk mengisi milad yang tentunya diwarnai dengan sejuta ide untuk KAMMI kedepan. Walau agak terkesan Hiperbolik, Kebanyakan wacana, wacana, dan wacana. Seorang sahabat pentolan Alumni sebelumnya, tiba-tiba nyeletuk “ ntar semangatnya Cuma tahun pertama aja, setelah itu, Allahu a’lam!”. Fikir-fikir benar juga, walau modal semangat doank ga cukup untuk mengawal suatu perubahan, tapi kalau modal ini aja ga dimiliki lagi, Hamdalah tahun depan hanya tinggal nama, tanpa Substansi, Esensi apalagi aksi!. Ternyata benar-red (oh…n0!)
Dan akhirnya teka-teki itupun terjawab sudah…harapan akan keluangan waktu—kalau boleh dibilang—dari Hamdalah’s community ternyata sangat mahal. Seribu mungkin..mungkin dan mungkin, sebagai bentuk Toleransi dan Husnuzhon yang tinggi kepada saudara2ku di Hamdalah. Af1.Minggu kedua Ramadhan, Hari H (Hamdalah) ternyata tidak secemerlang yang direncanakan. Subhanallah, betul-betul kwantitas personil dan acara nan sangat bersahaja. Keikhlasan kembali diuji. Alhamdulillah, untung materinya dikemas apik dan menarik. Yaaa khas orang Indonesialah untuk menghibur diri sendiri. Sikon-nya ga jauh beda dari syuro Sehingga an sempat berfikir semoga milad dan syuro’ Hamdalah tidak hanya dijadikan sekedar ajang “ melepas kerinduan” antar personil Hamdalah , atau sekedar kebanggaan mengenakan jaket “Persatuan” Hamdalah.
Guncangan kecil pun mulai menggoyang. Sampai ada yang….ah an fikir ini gak usah dibahas, khawatir akan benar-benar jadi kenyataan. Hamdalah akan segera berakhir, sesuai dengan namanya, Alhamdulillah,…. Tahmid penutup kegiatan insan.
Tulisan ini, lebih cocok dan pantas ditujukan kepada sang penulis semoga selalu dan senantiasa insyaf akan kealpaan diri. Sok Idealis? Ga papa juga sih asal Realistis!
7 Dzulhijjah 1429 H, with Pasrahkan Diri- Snada
Minggu, 02 Agustus 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
