SEBUAH MUHASABAH
Kematian, mungkin tidak ada hal yang paling “menakutkan”, selain 1 kata tersebut. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Fatimah, putri dari manusia paling agung Rasulullah Saw, “suatu hari menjelang kematian Rasulullah, pintu rumahku diketuk oleh seseorang sambil mengucapkan salam. Akupun segera menemui R asulullah untuk mengatakan hal tersebut. Rasulullah menyuruh aku agar mempersilahkan tamu tersebut masuk sembari bertanya, “ wahai Fatimah, tahukah engkau siapakah yang datang? Akupun menjawab, ‘ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, tetapi dia memanggil dengan suara yang menggetarkan sukma bagi siapa saja yang mendengarnya”, beliau pun menjawab “ sesungguhnya yang datang itu adalah sang pemutus kesenangan dunia dan cita-cita, pemisah anak dengan keluarga, dan yang meramaikan kuburan, suruhlah dia masuk”. Sekelumit kisah dari kekasih Allah menjelang detik-detik kembalinya ruh pada Khaliqnya. Sungguh, tidak ada yang bisa mengetahui kepastian akan datangnya maut, walaupun hanya berhitungkan hari bahkan detik sekalipun. Tertawa dan bersendagurau bersama keluarga dan teman-teman, namun tidak ada yang dapat memastikan apakah sesudah itu mereka bisa kembali bersua. Dunia hanyalah fatamorgana dan mengejarnya ibarat meminum air laut, makin diminum makin haus. Alquran telah memberi warning kepada kita makhluk yang amat mudah tertipu oleh bujukan kemegahan dunia,” Sesungguhnya dunia tiada lain hanyalah permainan dan tipu daya belaka, dan kehidupan akhirat adalah sebaik-baik tempat kembali”.
Jujur saja, terkadang butuh sedikit teguran pertanda cinta dari Sang maha Rahman, untuk menyadarkan kita insan hina yang mengaku sering lalai dan lupa dengan tujuan utama hidup kita, beribadah dan mengabdi hanya kepada-Nya. Dikejar-kejar jadwal perkuliahan yang padat, laporan praktikum yang kian menumpuk, bahkan sekedar zikir singkat sehabis sholat, sempat tidak sempat. Sholat hanya prioritas ke ???, nilai mata kuliah jauh lebih penting dan “mulia” daripada Nilai sholat kepada Allah, walaupun jelas-jelas nilai MK, orientasinya dunia semata, tokh, kita tidak akan pernah diinterogasi oleh malaikat apalagi ALLAH, tentang nilai dan IPK.
November 2007, Kepergian seorang sahabat yang selama hampir 2 tahun bersama-sama dalam 1 departemen, semakin menyadarkan daku, bahwa diri ini pun sedang menunggu giliran untuk kembali padaNya. Sebuah SMS yang masuk pada pukul 3 Dinihari, sungguh membuat aku sangat dan amat terkejut, hampir hampir lutut tidak sanggup menopang tubuh yang kian lunglai. Juli 2009, kepergian sahabat dekat saat SMU, justru ketika aku tiba2 ingat dan ingin menelponnya, namun sebuah SMS notification membungkam diri ini dengan keterkejutan yg teramat sangat... Yah... walaupun siapa saja pasti tahu kalau lahir dan mati itu pasti dan maut tidak mengenal usia, namun kematian tetap saja mengejutkan.
Perlu kita pertanyakan apakah kita masih cocok/pantas disebut aktivis jika untuk “ bermesraan” dengan ALLAH di 1/3 malam saja qt masih enggan. Kecapekan karena segudang n segunung aktivitas dakwah, yg syuro’lah yg dauroh ini lah yg seminar itulah yg mentoring sanalah, tanpa kita sadari bahwa bukan kuantitas tapi “kualitas dan kapabilitas” ibadah kita yg lebih diridhoi ALLAH. Tanpa bermaksud mengecilkan, pengalaman mabit bersama Akhwat X, yg aktivitasnya begitu full ( Subhanallah) namun energi potensial yg ada telah habis terkikis pada siang hari, sehingga untuk bangun sholat shubuh saja terasa ter-amat berat. Tahajud yang oleh Tauladan agung qt, Rasulullah dan para shahabat dijadikan sebagai nutrisi dakwah, akhirnya... lewat deh.
Jujur,tulisan ini lebih banyak dan pantas dialamatkan kpd penulis sendiri agar lebih menghargai waktu hidup didunia untuk investasi akhirat. Krn waktu tak akan pernah permisi untuk meninggalkan kita.
“ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya dan menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yang tiada guna....”( Qs.23:1-3 ).
4 mujahid/mujahidah at Hamdalah 2’s community
“ karena syukur tak sebatas lisan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar