Senin, 30 Agustus 2010

USIA vs AMAL (hakikat kado Milad

Membaca puluhan pesan dinding (FB) yang masuk bertepatan pada hari lahirku April lalu, membuat diri ini banyak merenung tiap kali membaca rangkaian pesan yang memuat bermacam doa dan harapan. Banyak “RASA” yang sukar dilukiskan secara verbal. Hmm..ternyata sekian milyar detik hidup telah dilalui, sadar atau tidak sadar.



Hidup kita sesungguhnya merupakan satu kesatuan waktu yang utuh dan tidak terpisah. Sejak kita memasuki usia baligh, yaitu usia pembebanan dan pertanggung jawaban, sejak itu pula catatan kualitas hidup kita mulai dibuka. Jadi, tinggal itung kalo sekarang usia 23 tahun (contoh), dipotong 12 tahun sebelum baligh, sekian jam tidur (malam, pagi, siang), ngejar tanda tangan Dosen (ehm), ngobrol di kantin, nonton TV de el el, so.. tinggal berapa tuh usia yang produktif n efisien?...Ukuran yang menentukan nilai hidup kita adalah MUATAN AMAL yang terkandung di sepanjang waktu yang kita lalui dalam hidup. Itu sebabnya kita harus menciptakan perimbangan yang maksimum antara usia dan amal; dimana kita meyakini rasio produktivitas hidup: “ satu unit waktu = satu atau beberapa unit pahala”.

Akan tetapi, Allah Swt. sesungguhnya menetapkan sebuah kaidah, bahwa manusia tidak akan pernah melakukan amal – sebanyak apapun amal itu, melebihi banyaknya karunia yang diberikan-Nya. Itulah sebabnya mengapa tidak akan pernah ada manusia yang bisa masuk syurga karena amal-amal mereka, karena sesungguhnya yang di nilai Allah adalah semangat ‘ubudiyah yang menyertai proses pelaksanaan amal itu. Amal-amal itu hanyalah alat bantu yang diperlukan Allah Swt untuk menurunkan rahmat kepada para pelakunya agar mereka mendapatkan tiket masuk syurga.



Atas dasar itulah Allah menetapkan 2 kriteria penerimaan dan penolakan sebuah amal:

Pertama, hendaklah amal-amal itu dilakukan semata (Ikhlas) untuk-Nya.

Kedua, hendaklah amal-amal itu dilakukan menurut tata cara yang dicontohkan nabi-Nya.



Apabila kedua syarat itu terpenuhi secara berimbang, maka ia akan terlihat pada ujungnya; sebuah akhir hidup yang baik. Begitu juga sebaliknya. Jadi, akhir hidup seseorang , atau cara seseorang menutup cerita kehidupannya merupakan ukuran yang menentukan kualitas hidupnya. Akan tetapi…..surga yang diberikan-Nya sebagai balasan sesungguhnya jauh melebihi kuantitas dan kualitas amal kita…(wallahu a’lam bishowab).

(Q. S: An-Naziaat: 40)
By: Nita widya ( 18 Ramadhan 1431 H)



Disarikan dari : Konsistensi menyongsong kematian Husnul Khatima

Sabtu, 24 Juli 2010

Muhasabah untukmu, ukhti

"Generator" content="Microsoft Word 11">

UNTUKMU UKHTIKU YANG MERINDUKAN CINTA RABBNYA…

Kutulis tulisan singkat ini untukku, dan untukmu wahai ukhti yang kucintai karna Allah…
Semoga menjadi muhasabah untuk kita bersama..

Bismillahirrahmanirrahim….

Duhai ukhti,,yang tak pernah lelah beribadah..bagimanakah ibadahmu hari ini??
Duhai ukhti,,yang tak pernah lelah bermu’amalah..bagaimanakah mu’amalahmu hari ini??
Sudahkah maksimal??

Ukhti,,,pesonamu adalah pesona Rabbmu…
Ukhti,,,kecantikanmu adalah kecantikan Rabbmu…
Ukhti,,,kecerdasanmu adalah kecerdasan Rabbmu…
Ukhti,,,kelembutanmu adalah kelembutan Rabbmu...
Ukhti,,,keramahanmu adalah keramahan Rabbmu…
Ukhti,,,kemandirianmu adalah kemandirian Rabbmu…
Ukhti,,,kesuksesanmu adalah kesuksesan Rabbmu…
Ukhti,,,tak ada satupun kelebihanmu…
Kelebihan yang ada padamu adalah kebihan Rabbmu…
Namun pernahkah kita menyadarinya??
Berhak kah kita merasa bangga akan kelebihan itu???

Duhai ukhtiku sayang,,dirimu adalah insan terindah yang di hadirkan Allah dimuka bumi ini…
Sejauh manakah engkau pertahankan keindahan itu??
Sejauh manakah engkau jaga keindahan itu??
Sejauh manakah engkau rawat keindahan itu??
Masihkah keindahanmu itu benar-benar indah??
Ataukah sudah engkau cemari dengan godaan-godaan yang ada??

Ukhti yang selalu menjaga hatinya dari rayuan-rayuan ikhwan..
Masihkah terjaga dari rayuan mereka??
Masihkah kuat dengan godaan mereka??
Beruntunglah bagi engkau yang masih kuat penjagaannya..
Dan merugilah bagi engkau yang lemah penjagaannya..
Ukhti, berusahalah untuk menjaga hatimu kepada yang bukan halalmu…
Jangan sampai terjebak dengan rayuan sesaat mereka,,
Tanamkan dalam hatimu..yang berhak merayumu dan engkau rayu hanyalah suamimu..

Ukhtiku,, untukmu yang sudah terjebak dengan rayuan mereka..sadarlah..
Masih ada kesempatan untukmu kembali kepada Rabbmu…
Jagalah hijabmu,,jagalah marwahmu,,,
Tegaslah kepada setiap mereka yang datang hanya sekedar untuk mengujimu,,
Karena dirimu bukanlah kelinci percobaan yang dengan mudah mereka uji sekehendak mereka..
Setelah kita terjebak dan mengharapkan mereka..
Dengan mudahnya mereka mengatakan, “afwan..ana hanya menguji anti”…(Astaghfirullah…ampuni mereka Ya Allah..)

Ukhtiku yang cantik,,,kecantikanmu bukanlah kecantikan fisik semata..
Masih ada kecantikan yang lebih cantik yang harus kau jaga…
Kecantikan akhlakmu ukhti sayang..
Sudahkah engkau jaga akhlakmu?
Sejauh manakah kau engkau menjaganya??

Ukhti,,perkuatlah bentengmu menuju RidhoNya..
Istiqomahlah mempertahankah Izzahmu di hadapanNya..
Dia Maha Pencemburu,,
Berikanlah yang terbaik untukNya
Dia menunggumu di setiap sujud malammu,,
Yakinlah padaNya,,Dia akan memberikan yang terbaik untukmu,,
Karena janjiNya pasti…
Berjanjilah engkau akan selalu menjaga hijabmu ukhtiku sayang,,,
Uhibbukifillah…

Selasa, 09 Maret 2010

yang bersyukur dan tak pandai bersyukur

Assalamualaikum warahmatullah,, pa kbr hati?? hmm.. satu perbedaan orang yang bersyukur dengan orang yang tak pandai bersyukur. Orang yang bersyukur "Fokus pada apa yang dimiliki" sedangkan orang yang tak pandai bersyukur, " Fokus pada apa yang tidak dipunyai".....