Ustadz kerjanya kok dandan?
Kisah ini terjadi waktu aku masih kelas 3 SLTP. Siang itu adalah waktunya pelajaran Bahasa Indonesia dengan topik Kalimat Majemuk Setara dan Bertingkat. Menjelang UN kami lebih banyak menyelesaikan soal-soal UN tahun sebelumnya. Dengan serius aku membaca soal demi soal hingga sampailah pada soal yang berbunyi “ Pacarku adalah gadis yang senang berdandan dari hari ke hari”, tiba-tiba kawan sebangkuku berbisik, “ Ta, Ibu ini baru nikah ya, ma siapa dan apa kerjanya?, dia bertanya mungkin karena tahu kalau guru bahasa Indonesia yang sedang mengajar kami adalah tetanggaku. “ Ya, tapi kurang tau apa kerja suaminya, kata orang sih Ustaz,” walaupun sedikit gondok karena konsentrasiku terganggu tapi aku jawab juga. Belum selesai aku bicara, tiba-tiba ibu itu menunjuk aku, “ Silahkan kedepan kerjakan kalimat majemuk yang akan ibu bacakan”. Walaupun sebenarnya aku belum terlalu paham materinya dan sedikit terkejut, tapi aku gengsi juga kalau tidak maju karena gelar juara kelas yang aku pegang.
Dengan mantap aku pun maju. Beliau membacakan soalnya “ Pacarku adalah gadis yang senang berdandan dari hari kehari”, padahal soalnya jelas-jelas sama dengan yang aku kerjakan sebelumnya. Tapi entah apa yang ada di memori otakku sehingga ketika asyik menulis subjek, Predikat, Objek, tiba-tiba suara guru tersebut memecahkan keseriusanku, “Hmm, coba kamu baca lagi kalimat yang kamu tulis!, aku terkejut, lalu tanpa rasa bersalah akupun membaca ulang yang aku tulis: “Pacarku adalah ustaz yang senang berdandan dari mesjid ke mesjid.” Astaghfirullah! Aku betul-betul heran kok bisa ini yang aku tulis?, Gerrr! Seisi kelas tertawa bahkan kulihat ada yang memegangi perut menawan tawa. “ Ngapain ustaz dimesjid kalau cuma dandan kerjanya?” beliau nyeletuk dengan ekspresi yang sulit aku terjemahkan. Aku hanya menunduk. Perasaan malu dan kesal pada diri sendiri yang melamun saat menulis. Aku pun hanya bisa berkata pelan, “ Maaf Bu!”. Untunglah pemilihan bagian S, P, O aku benar sehingga aku dibolehkan duduk. Bahkan hingga berakhir jam pelajaran dan kami pulang, “kelalaian” itu masih jadi bahan tertawaan teman-temanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar