Membaca puluhan pesan dinding (FB) yang masuk bertepatan pada hari lahirku April lalu, membuat diri ini banyak merenung tiap kali membaca rangkaian pesan yang memuat bermacam doa dan harapan. Banyak “RASA” yang sukar dilukiskan secara verbal. Hmm..ternyata sekian milyar detik hidup telah dilalui, sadar atau tidak sadar.
Hidup kita sesungguhnya merupakan satu kesatuan waktu yang utuh dan tidak terpisah. Sejak kita memasuki usia baligh, yaitu usia pembebanan dan pertanggung jawaban, sejak itu pula catatan kualitas hidup kita mulai dibuka. Jadi, tinggal itung kalo sekarang usia 23 tahun (contoh), dipotong 12 tahun sebelum baligh, sekian jam tidur (malam, pagi, siang), ngejar tanda tangan Dosen (ehm), ngobrol di kantin, nonton TV de el el, so.. tinggal berapa tuh usia yang produktif n efisien?...Ukuran yang menentukan nilai hidup kita adalah MUATAN AMAL yang terkandung di sepanjang waktu yang kita lalui dalam hidup. Itu sebabnya kita harus menciptakan perimbangan yang maksimum antara usia dan amal; dimana kita meyakini rasio produktivitas hidup: “ satu unit waktu = satu atau beberapa unit pahala”.
Akan tetapi, Allah Swt. sesungguhnya menetapkan sebuah kaidah, bahwa manusia tidak akan pernah melakukan amal – sebanyak apapun amal itu, melebihi banyaknya karunia yang diberikan-Nya. Itulah sebabnya mengapa tidak akan pernah ada manusia yang bisa masuk syurga karena amal-amal mereka, karena sesungguhnya yang di nilai Allah adalah semangat ‘ubudiyah yang menyertai proses pelaksanaan amal itu. Amal-amal itu hanyalah alat bantu yang diperlukan Allah Swt untuk menurunkan rahmat kepada para pelakunya agar mereka mendapatkan tiket masuk syurga.
Atas dasar itulah Allah menetapkan 2 kriteria penerimaan dan penolakan sebuah amal:
Pertama, hendaklah amal-amal itu dilakukan semata (Ikhlas) untuk-Nya.
Kedua, hendaklah amal-amal itu dilakukan menurut tata cara yang dicontohkan nabi-Nya.
Apabila kedua syarat itu terpenuhi secara berimbang, maka ia akan terlihat pada ujungnya; sebuah akhir hidup yang baik. Begitu juga sebaliknya. Jadi, akhir hidup seseorang , atau cara seseorang menutup cerita kehidupannya merupakan ukuran yang menentukan kualitas hidupnya. Akan tetapi…..surga yang diberikan-Nya sebagai balasan sesungguhnya jauh melebihi kuantitas dan kualitas amal kita…(wallahu a’lam bishowab).
(Q. S: An-Naziaat: 40)
By: Nita widya ( 18 Ramadhan 1431 H)
Disarikan dari : Konsistensi menyongsong kematian Husnul Khatima
Tidak ada komentar:
Posting Komentar